PART ONE [JB’S SIDE]

IM JAE BUM a.k.a JB

aku benci saat mendapati semua orang terdiam dan terhanyut oleh sebuah drama yang sedang mereka tonton. aku benci saat semua orang tak enggan menitikkan airmatanya hanya karena melihat scene mengharukan yang sedang diputar. aku benci semua orang yang seperti menyukai segala kebohongan itu.

memang apa yang bisa dinikmati oleh orang yang jelas-jelas berakting? jelas-jelas membohongi dirinya dan bermain seperti sedang mengubur hidup-hidup jati dirinya untuk profesionalitas semata? apa sih yang bisa dibanggakan melihat mereka begitu anggunnya jalan diatas karpet merah dan menyunggingkan senyum selebar-lebarnya pada kamera? apa sih kepuasan yang didapatkan setelah berdesak-desakan menjadi yang terdepan untuk menjepret artis idolanya?

“Jae Bum-imnida.” jawabku santai sambil memakan ringan kacang almond yang tersdia dihadapanku.

“apa kau kemari ingin mengikuti audisi? rasa-rasanya wajahmu bisa dijual.” aku menyembunyikan raut terkejutku. rasa kesal dan marah mulai menggerogoti sel-sel tubuhku.

seenaknya saja kau bilang begitu! aku tahu aku ini tampan, tapi tuhan memberikan anugrah ini bukan untuk DIJUAL! kau pikir kau siapa seenaknya mengatakan wajahku seperti barang dagangan yang bisa kau jamah seenaknya?! lelaki tidak tahu diuntung, masih beruntung tuhan memberinya hidup yang panjang!, geramku dalam hati.

jika bukan soal perempuan itu, aku tidak akan membiarkan lelaki paruh baya ini tersenyum-senyum hanya dengan menatap wajahku yang menawan. belum pernah lihat wajah natural tampan sepertiku, ya?

“kalau kau ingin audisi, kau pasti diterima! sebelumnya kau tak menjalani operasi plastik, kan?”

kini raut wajah tak senangku benar-benar tak bisa kusembunyikan.

BAGAIMANA BISA SEBUAH ANUGRAH KAU BILANG HASIL TANGAN MANUSIA?!!, rasanya jika aku bukan sedang dalam sebuah kantor perusahaan, akan kulayangkan bogem mentahku pada lelaki paruh baya yang hanya bisa mengasah kemampuan bicaranya itu.

“eum…bisa tidak aku bertemu dengannya secepat mungkin?” tanyaku mencoba tidak menggunakan banmal (bahasa non-formal)

“oh iya, kau kesini mau bertemu dengan Mikki, ya? hahaha, maaf aku lupa.”

aku menahan nafas selama beberapa detik mendengarnya dengan ringan melontarkan perkataan maaf setelah mencemooh wajahku yang katanya hasil tangan manusia, dan membuatku seperti orang bodoh dengan menunggu seseorang yang bahkan tak kunjung datang.

belum sempat aku membuang nafas, lelaki paruh baya itu berbicara lagi, “tapi Mika sedang menjalani masa trainingnya, dan itu akan mempersulitnya jika ia harus menemuimu, lagipula–”

“AKU SUDAH MENUNGGUNYA DENGAN MENCOBA SABAR MENDENGAR SEGALA OCEHANMU SOAL WAJAHKU INI, TIDAK PUASKAH KAU MENGHINAKU DENGAN MENGATAKAN ANUGRAH INI HASIL CIPTAAN TANGAN MANUSIA? AKU TAHU AKU INI TAMPAN, TAPI BISAKAH KAU MEMPERMUDAH URUSANKU DISINI? AKU HANYA–”

“JB!”

aku terhenyak mendengar suara kecil itu memanggilku lantang. seolah sudah tertangkap basah mengambil barang tanpa membayarnya, aku segera menarik topiku agar sedikit kebawah menutupi sebagian wajahku, dan memasang kacamata hitam yang selalu siap sedia didalam jaketku, lalu berlagak bahwa aku tidak mendengar apa-apa.

lelaki dihadapannya mengernyitkan dahi, lalu menatapku dengan mata bulatnya yang seolah ingin keluar dan memelototi wajahku secara detail. habislah riwayatku kali ini, habis sudah semuanya disini.

“m-mworago? JB?” tanya lelaki paruh baya itu sambil menengokkan kepalanya kearah gadis yang sedang memelototiku seolah aku ini buronan yang tidak tahu dimana selnya.

aku membentuk kalimat dengan gerakan mengibas-ngibaskan udara dihadapanku, lalu bertindak seolah aku menggores leherku. berharap ia mengerti artinya yang tidak kurang tidak lebih ‘jawablah tidak, jika tak ingin melihatku mati.’

Mika, gadis itu seolah mengerti raut panik dibalik kacamata hitamku, mendekatiku sambil memasang senyum lebarnya. merangkulku seperti teman lama yang sudah terpisahkan selama beberapa tahun, tak lupa ia menyelipkan jemarinya kedalam hoodieku dan mencubit keras pinggangku.

“kenapa tak bilang-bilang akan kesini, Bummie-ah?” katanya dibuat manja. aku meringis tertahan merasakan sakit bercampur geli yang menggerayangi pinggangku. kupasang cengiran konyol dan membalas merangkulnya.

“kenapa kau berlari ke tempat yang salah, bodoh?” tanyaku tepat di belakang telingannya.

lelaki paruh baya itu terus mengamati gerak-gerik kami. Mika tak berhenti mencubiti pinggangku dan aku hanya bisa membalasnya dengan poker face, seolah tidak ada yang terjadi dan tiba-tiba melihat bekas ruam kemerahan dipinggangku nantinya.

“ah, kau bisa segera meninggalkan kami, ahjussi. aku hanya seorang teman masa kecilnya.” kataku akhirnya. tak kuat menahan serangan cubitan di pinggangku yang rasanya mau kubuang saja.

lelaki paruh baya itu mengangguk setuju setelah melihat Mika yang tak kunjung melepas rangkulannya padaku. ia memandangku dengan tatapan iri, seolah akulah lelaki yang paling beruntung yang bisa mendapat rangkulan mesra dari seorang Mika yang walau statusnya baru menjadi trainee, ia sudah terkenal karena wajahnya yang menarik untuk dilihat. lelaki itu tak tahu bahwa gadis bernama Mika itu bahkan sudah menyakiti pinggangku, lebih daripada menyadari bahwa aku sedang dirangkul olehnya.

“ayo kita selesaikan masalah kita, JB si artis yang menghilang entah kemana!”

aku membungkam mulutnya cepat-cepat. tak ingin ada satu bakteri atau virus atau terlebih manusia mendengar ucapan gadis itu. walau wajahnya terlihat innocent, dalamnya tidak se-menipu bungkusnya. ia membawaku keluar kantor dan mendudukkanku disebuah bangku taman.

bagiku, gadis bernama Mika itu tetap menjadi hantu yang selalu menghantuiku dengan kritikan pedas yang bahkan dengan berapa air literpun kau tak bisa menghapusnya dalam ingatan. Mika yang tetap menjadi seorang sandaranku walau sedang membutuhkan atau malah ingin kubuang. Mika yang seperti ini, walau dengan bekas ruam baru dipinggangku, aku merasa nyaman mendapatkan cubitan darinya.

itu artinya ia tetepa memikirkanku walau sejauh apapun aku mencoba untuk pergi meninggalkannya, pikirku dalam hati. sesungging senyuman menghiasi bibirku. rasanya aku rindu saat-saat seperti ini. saat-saat dimana aku bisa tersenyum dengan tulus. bukan untuk membuat siapapun tersenyum kembali, tetapi tersenyum untuk sesuatu yang membuatku puas. sesuatu yang membuatku ingin terus mempertahankan senyum ini.

“kau sedang melamunkan aku,ya?”

bagai boneka yang sedang dijunjung tinggi penuh pemujaan, lalu detik berikutnya dihempaskan dari lantai 60, dan tidak ada super hero seperti batman, superman, atau cat woman yang menyangga tubuhmu yang melayang pasrah mengikuti gravitasi, aku langsung terpuruk mendengar lontaran kata dari gadis dihadapanku ini.

“sejak kapan kau menjadi Mika yang percaya diri, huh?”

tanyaku malas. menatap orang berlalu-lalang tanpa menyempatkan waktu melihatku rasanya menyenangkan. ingin rasanya aku berdoa pada tuhan untuk menjadikan satu hari penuh dengan kesibukan. sehingga tak ada paparazzi yang tidak ada kerjaan menguntitku dan mengambil gambar-gambarku secara diam-diam.

“kau yang mengajarkannya padaku tahu!”

balasnya sambil merengut. ingin rasanya kutarik bibir yang sedang mengerucut itu dan kusimpan baik-baik dalam dompet, agar tak ada orang yang bisa memilikinya selain aku.

aku membalasnya dengan kerutan di dahi. aku mengajarkannya? yang benar saja!

ia menghela napas, lalu melanjutkan perkataannya. “aku ini tampan! tak bisakah kau melihatnya? lihat, semua orangpun mengakuinya, kenapa hanya kau! hanya kau yang mengatakan aku dengan sebutan ‘biasa-biasa saja’. aku ini tampan, dan aku mengetahuinya sejak aku lahir.” ia berbicara diplomatis.

aku meringis mendengarnya. sungguh bukan gayanya mengikuti bagaimana seseorang berbicara. ah, mungkin kegiatan trainingnya yang membuat otaknya bergeser dari tempatnya itu.

“kalau itu menurutku bukan mengajarkan padamu. aku hanya ingin matamu melihatku dengan benar. seperti mendeklarasikan fakta.” jawabku enteng.

ia mendengus. “mendeklarasikan fakta?”

aku tersenyum lebar. “fakta jika aku tampan!”

‘BUK’

aku mengaduh kesakitan merasakan sepatu ketsnya mengenai kepalaku.

“KAU, tetaplah menjadi JB-ku yang seperti itu..” katanya pasrah, membuatku tertawa meledak-ledak.

sesaat kemudian aku menatapnya serius. “memang aku berubah?”

pertanyaan bodoh, tapi aku tetap ingin mendengar jawabannya.

ia memalingkan wajahnya. menarik nafas panjang, lalu menghembuskannya lagi. seperti itu seterusnya. aku mendengus. sepertinya perempuan itu senang sekali membuatku menunggu.

akhirnya aku diam. tak ingin merusak bintang yang tersebar dilangit kota Seoul diatasku. biarlah pertanyanku menggantung. itu bisa membuatku mengunjunginya lagi walau dengan alasan yang sangat rendah tingkat kualitasnya.

tanganku merangsek mencari tangannya. kepala kami sama-sama menengadah keatas, menatap langit yang mulai meredup sinarnya. aku–kami–mengerti betul saat-saat seperti ini. tanpa rasa canggung ia menggenggam erat tanganku yang belum memakai sarung tangan. itu membuatku seperti dialiri hawa hangat keseluruh tubuh.

“aku senang..”

aku menunggunya melanjutkan kalimatnya yang terasa mengganjal ditelinga.

“aku masih bisa menggenggam erat tanganmu disaat salju pertama kali turun tahun ini.”

aku mengamati wajahnya dari samping. sudut dagunya yang lancip, bibirnya merah ranum, hidungnya yang mancung, alis matanya yang tebal, ditambah sorot matanya yang tajam, rasanya semua ingin kukoleksi di tempat koleksi pribadiku.

aku mengeratkan genggaman tangannya saat salju mulai menyentuh permukaan kulitku.

 

seharusnya aku tak pernah melepaskan genggaman itu jika hasil yang kudapat adalah tak pernah bisa melihatnya lagi, dan tak bisa merasakan kehangatan yang sama ditahun-tahun berikutnya.

dan kau tahu apa yang paling kubenci saat ini?

SALJU. SENYUM. KEHANGATAN. BENTUK PERHATIAN. dan terlebih…SOROT KAMERA.

2 thoughts on “PART ONE [JB’S SIDE]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: