WHAT IS LOVE -PART 1-

Author : MiyuMindless

Genre : Romance, Friendship

Rating : General

Length : Part

=LUHAN’S POV=

“sudah berapa yeoja yang kau taklukkan?” seorang lelaki dengan wajah tertutup syal setengahnya dan kacamata hitam yang menutupi setengah wajah lainnya duduk dan langsung bertanya padaku. aku mengernyit, lalu mendekatkan wajahku pada orang yang sepertinya sudah khas untukku. tapi siapa? aku memutar otakku dengan cepat. menemukan suara bass yang tenang dan kalem seperti orang dihadapanku…siapa lagi kalau bukan…
“Kai. Loading-mu lama sekali, bodoh.” katanya sambil mendorong dahiku dengan telunjuknya. lalu ia membuka syal dan kacamata hitamnya, menampakkan wajahnya yang selalu membuat banyak hati wanita meleleh seketika.

aku merengut. baru saja aku mau memanggil namanya, dia memang selalu menjadi yang tercepat. ugh.

aku memalingkan mukaku dari hadapannya dan mulai meneguk coklat panas yang menemaniku di kantin sekolah pagi ini. karena masih pagi, belum banyak murid yang nongkrong di sekolah, apalagi di kantin ini. kebanyakan yang sudah datang adalah orang-orang kutu buku dengan kacamata tebal dan buku yang selalu dipeluk di depan dada mereka.

dan untuk apa aku disini? jawabannya sepele, aku sedang tidak ingin memakan masakan tetangga apartemenku yang gila itu. dia gadis yang selalu menghantuiku. kepekaannya dengan lingkungannya sangat berlebihan, hingga aku merasa aku mempunyai baby sitter untuk mengurusku. tak jarang aku mengomel padanya. entah omelan yang seharusnya kutujukan untuk orangtuaku, atau omelan yang sebenarnya curhatanku, atau sekedar membentaknya. entah kenapa dihadapannya aku bisa meluapkan segala emosi dalam diriku, bahkan setelahnya ia berakting seperti tidak ada apa-apa yang terjadi, jadi sampai sekarang aku masih menjadikannya tempat pelampiasanku.

“kau berpikir tentang apa?” tanya Kai sambil merebut secangkir coklat panasku. aku membiarkannya dan terus menatap lurus kedepan. walau sebenarnya aku tidak sedang memikirkan apa-apa, aku sedang malas berhadapan dengannya.

“hei, kau masih marah soal itu?” Kai bertanya lagi. mengungkit sesuatu yang membuatku mual-mual dan ingin muntah. seolah ia mengaduk seluruh isi perutku yang sebenarnya hanya berisi coklat panas yang baru saja kuminum dan beberapa sayuran yang kumakan kemarin.

“tidak. aku sudah melupakannya.” jawabku berbohong, tentu saja. karena perbuatannya aku seperti orang gila yang ketahuan mencopet.

“baguslah, ternyata bakatku sudah tersalurkan padamu, ya!” katanya senang sambil menepuk pundakku. aku hanya tersenyum tipis (baca: miris) kepadanya. aku berpikir enak juga mempunyai muka tebal sepertinya, ia bisa melakukan hal yang membuat orang lain tidak suka tapi ia masih enjoy saja setelahnya. orang sepertikulah yang harus terus bersabar mempunyai teman macam seorang Kai.

“lalu bagaimana dengan yeoja itu?” aku mendengus. perlu aku teriakkan bahwa aku sedang menghindari bersitatap dengannya? bahkan sebenarnya aku yang bersalah, tapi aku sendiri yang malu bertatap muka dengannya. dan dengan seenak jidat si makhluk berwajah tebal ini menanyakan tentang gadis itu. apa harus kujelaskan semuanya?

“dia…tidak apa-apa.” jawabku datar (baca: malas).
ia mengangguk-anggukkan kepalanya tanda mengerti. lalu ia mengetukkan jari telunjuknya ke meja. menimbulkan sebuah suara yang juga seperti nada lagu. aku membiarkannya dan ia mulai bersenandung.

* * *

“Xi Lu Han!”

bagai seorang petani yang baru saja panen dan tersambar petir, tubuhku menegang mendengar suara itu. suara khas yang sudah menemaniku selama 3 bulan terakhir ini. sudah dapat kupastikan bahwa dialah orang itu.

aku langsung menutup mulut. meraba bibirku sendiri, padahal aku sudah berusaha untuk melupakan kejadian paling memalukan itu. tapi slide itu seperti terus menghantuiku, dan berakhir pada saat ini.

aku kini berada di depan pintu apartemennya. dan ia memanggil namaku dengan amat sangat jelas. lengkap dan jelas. tapi aku masih bergeming, seolah mayat yang baru saja di beri formalin, aku hanya bisa diam menatapnya dengan tatapan kosong.

ia mengernyit, dan mendekatkan wajahnya padaku. aku sedikit mundur dan ia langsung menarikku masuk kedalam apartemennya.

“kau sakit? di bagian apa?”

tanyanya sambil meraba-raba tubuhku seolah ia adalah ibu yang sedang mendapati anaknya habis babak belur gara-gara bertarung dengan temannya.

“aku…”

ia menatapku dengan serius dan berhenti meraba-raba tubuhku. bola mataku membesar melihat bola matanya yang terarah lurus menatap bola mataku. rasanya ini seperti pertarungan antar suku yang siap meluncurkan bom-bom mereka untuk membunuh satu sama lain.

“…minta maaf.” setelah beradu argumen di dalam otakku, dan sudah seliter ludah yang tertelan, akhirnya aku memberanikan diri untuk mengungkapkan kalimat itu.

“wae?” tanyanya dengan cepat. membuat jantungku yang baru saja bernapas lega kembali berpacu. seperti pembalap dengan mobilnya yang baru saja masuk dalam service dan kembali berpacu untuk mendapatkan posisi pertama.

“ehm…soal yang kemarin. aku benar-benar tidak sengaja. aku…kau tahu lah, aku tidak bermaksud seperti itu padamu. dan kau bisa memukulku sekarang. aku sudah siap.” kataku, lalu kupejamkan mataku dengan erat. membayangkan ia dengan tatapan setannya melayangkan sebuah tongkat bisbol ke kepalaku dan membuatku jatuh pingsan dan ia tertawa sekeras-kerasnya. aku menggelengkan kepalaku sedikit, itu bayangan yang terlalu seram. paling tidak yang dikerjakan seorang Kwon So Yu adalah memuntahkan mangkok berisi nasi campur ke wajahku.

setelah berdetik-detik aku memejamkan mata, tidak ada yang terjadi. semua bayanganku seperti terhapus dan menimbulkan pertanyaan, apa yang sedang dikerjakan gadis itu untuk membalas perlakuanku?

kubuka sedikit mata kananku. hanya sekedar ingin melirik apa yang ia kerjakan, jangan-jangan ia menyiapkan pisau daging untuk membelahku. apa sebegitu tidak sukanya ia denganku sampai-sampai aku harus mati ditangannya? padahal aku hanya menciumnya! ups…

aku terjengkang kebelakang. punggungku menatap dinding pada pintu apartemennya yang terbuat dari kayu jati yang kuat dan keras. aku mengaduh dan ia langsung jongkok di hadapanku.

“wae?” tanyanya lagi.

sepertinya aku harus mengonsultasikan orang ini bersama Kai. ia yang membuatku terjengkang seperti ini, dan setelahnya ia menanyakan ‘kenapa?’ oh god, sudah cukuplah Kai yang berwajah tebal, jangan tambah 1 orang lagi yang akan merusak hariku karena harus memakan hati setiap detiknya.

“wajahmu…” kalimatku menggantung. ia makin menghilangkan jarak diantara kami.

“wae?” bahkan aku bisa mencium parfumnya yang memabukkan. aku menyentuh bahunya dan mendorongnya pelan.

“…terlalu dekat.” lanjutku. aku memasang cengiran aneh agar suasana tidak terlalu kacau. bukannya menjauhkan wajahnya, ia malah mengenyit dan masih mepertahankan jarak antara wajah kami. aku sampai harus menahan nafasku. bahkan ini lebih menyiksa daripada ciuman.

“kau meminta maaf karena apa?” tanyanya lagi. mungkin gadis ini sudah percaya diri bahwa mulutnya tidak bau. tapi bagaimana aku? hari ini aku makan satu porsi penuh spaghetti dengan bawang bombay, dan parahnya aku belum menyentuh sikat gigi sama sekali setelahnya.

ting tong! tepat sekali, bel apartemennya berbunyi.

safe by the bell.

aku terkikik geli melihatnya yang harus beringsut dari jongkoknya dan berdiri menghadapku. ia mengulurkan tangannya untuk membantuku. tapi aku memilih berdiri sendiri daripada harus meladeni gadis gila ini.

“mungkin itu Umma. ia sangat kaget mengetahui bahwa kau menciumku kemarin.” lanjutnya sambil membereskan sedikit barang-barangnya yang berceceran.

tubuhku menegang lagi. manusia jenis apa gadis ini? aku menciumnya, ia bercerita pada Ummanya, dan ia mengatakannya dengan raut wajah biasa seperti itu? tidak ada raut bahagia? tidak ada raut wajah yang marah dan menyesal? lalu apa yang ia rasakan setelah tahu bahwa aku menciumnya? gadis gila, sungguh!

dan kini Ummanya menunggu diluar dengan hati was-was karena anak perempuan semata wayangnya sudah tidak perawan lagi akibat ulah seorang lelaki yang mabuk dan tidak sengaja menciumnya itu? coret kata tidak perawan, maksudku bayangkan saja! itu ciuman pertamaku dengan seorang perempuan, dan untuknya? kupastikan itu adalah ciuman pertamanya juga. terbukti karena ia tidak menikmati ciuman yang kuberikan. ia hanya diam, dan menerima. entah apa yang ada dipikirannya karena yang ada dipikiranku saja sudah sangat kacau dan berbelit-belit.

“kau bisa keluar. Ummaku akan sedikit ganas disaat seperti ini.” katanya sambil membukakan pintu belakang. aku memberinya senyum simpul. antara senyum tanda menyesal dan aneh. aku yang menyebabkan semuanya, tapi ia malah mengusirku. seolah ia tidak ingin ibunya membunuhku langsung dihadapannya.

aku membungkuk sebelum benar-benar keluar dari apartemennya. ia hanya tersenyum padaku dan melambaikan tangannya seperti biasa. wajahnya yang selalu belepotan tepung itu kini sudah lebih tertata (?) . setidaknya ia menunjukkan wajah cantiknya saat bertemu ibunya. hahaha

aku berjalan menuju apartemenku yang hanya berjarak beberapa meter dari apartemennya dengan lunglai. sebenarnya sudah tidak ada yang membebaniku lagi. aku sudah minta maaf dan kurasa itu sudah selesai. apalagi dengan wajahnya yang seperti tida ada apa-apa diantara kami, aku makin merasa bahwa persoalan kemarin sudah selesai dengan amat sangat lancar. bahkan ia masih menghadiahiku senyuman manis khasnya. jadi, sebenarnya untuk apa aku berjalan seperti orang tidak punya tujuan hidup seperti ini?

pikiranku terus berkecamuk walaupun aku sudah merebahkan diriku diatas kasurku yang empuk. entah gadis itu punya kekuatan apa untuk tetap singgah didalam otakku, yang jelas aku tidak bisa menghapusnya walau hanya sedetik. sekalipun aku bekerja keras untuk melupakannya ia seperti magnet yang otakku berada di dalam medan magnetnya. seberapa keras aku melupakannya, sekeras pula ia menarikku untuk tetap memikirkannya.

=LUHAN’S POV END=

semuanya bermula dari seseorang bernama Kai. ia yang memaksa Lu Han untuk menyewa apartemen. Kai sendiri yang memilihkan tempatnya untuk Lu Han. bukan hanya dekat dari sekolah, apartemen itu juga punya fasilitas yang baik, amat baik malah. Lu Han yang sebenarnya bukan orang Korea hanya bisa mengangguk menerima ‘rumah’ barunya yang berada di Korea itu.

dan dari situlah Lu Han bertemu dengan gadis gila pemilik apartemen sebelah yang selalu ingin ikut campur dalam masalah orang lain. entah apa yang diidamkan ibunya saat mengandungnya, ia seperti kelinci yang tak bisa diam. selalu berpindah dan selalu ada.

belum lagi botol minum Lu Han yang tertukar dengan botol berisi soju yang dibawa Kai makin merunyamkan dunia Lu Han. pada saat malam ia meminum soju itu, ia telah mencium seorang gadis yang selalu menghantuinya. dibawah naungan soju, ia tak sadarkan diri dan mengingat segalanya saat pagi menjelang. dengan wajah merah dan di pelukannya ada seorang perempuan, Lu Han menyadari sebuah kesalahan besar yang ia buat. coret, yang seorang Kai buat untuk semakin merunyamkan dunianya.

ini adalah awal kisah seorang Lu Han dengan gadis yang di cap gila olehnya. Lu Han yang selalu menganggap gadis itu adalah magnet dan dia selalu berputar-putar dalam medan magnet sang gadis, yang artinya ia tak akan bisa lepas dari jeratan gadis itu, dan gadis bernama Kwon So Yu itu yang selalu menganggap Lu Han adalah tetangga terbaiknya, entah apapun yang dilakukan Lu Han padanya, ia hanya bisa menerima karena sebenarnya ia yang mendekatkan diri pada Lu Han. dibalik wajahnya yang selalu ceria dan terlebih datar, gadis itu menyimpan banyak rahasia masa lalunya. dan ia yakin, dengan adanya Lu Han dalam kehidupan sehari-harinya, dapat membantunya melupakan bahkan menghilangkan jejak masa lalunya itu. entah Lu Han merasakan tidak suka atau ingin terlepas dari gadis itu, toh, Kwon So Yu tidak akan melepas Lu Han sama seperti ia melepas seseorang di masa lalunya.

TBC

3 thoughts on “WHAT IS LOVE -PART 1-

  1. Pingback: What is Love -Part 2- « My World

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: